Nofrian Maariwuth Dinilai Netizen Advokat Tukang Hujat: Hukum di Meja Sidang Ambyar di Kolom Komentar

by -372 Views

News Tutuyan – Jagat media sosial di Kabupaten Kepulauan Talaud kembali dibuat heboh setelah seorang warga, Roy Salibana, melontarkan kritik terbuka terhadap Nofrian Maariwuth, SH., S.IP, seorang advokat yang cukup dikenal di wilayah tersebut. Melalui beberapa unggahan di akun Facebook pribadinya, Roy menuding bahwa Nofrian tidak menjalankan peran profesionalnya sebagai penegak hukum, melainkan sering memicu kegaduhan dan konflik melalui pernyataan-pernyataan bernada provokatif.

Dalam status yang ia unggah pada 26 April 2025, Roy menegaskan bahwa masyarakat harus berhati-hati terhadap advokat yang “menggunakan media sosial untuk menyerang harga diri orang lain, tetapi bersembunyi di balik status hukum ketika menerima kritik balik.” Unggahan tersebut cepat menyebar, memicu diskusi luas di kalangan warga Talaud, baik yang mendukung maupun yang mempertanyakan motif Roy.

Konflik Meruncing di Media Sosial

Menurut Roy, pola komunikasi Nofrian di media sosial tidak mencerminkan etika seorang praktisi hukum. Ia menyebut bahwa berbagai pernyataan yang dilontarkan Nofrian justru memicu pertengkaran terbuka, termasuk dengan aparat keamanan. Kasus yang disebut paling menonjol adalah perdebatan mengenai layanan BPJS Kesehatan yang melibatkan seorang perwira polisi berinisial DM.

Perselisihan tersebut, yang awalnya berlangsung di ruang publik, kemudian merembet menjadi laporan resmi ke kepolisian pada tanggal 23 dan 25 April 2025, sehingga menambah panjang daftar konflik yang menyeret nama sang advokat.

Sorotan pada Dugaan Konflik Kepentingan Proyek

Tak berhenti pada kritik terkait perilaku di media sosial, Roy juga menyinggung dugaan keterlibatan Nofrian dalam sejumlah paket proyek pemerintahan yang menurutnya patut dipertanyakan. Dalam unggahannya, ia menuliskan tiga proyek yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan pihak yang dekat dengan Nofrian:

  1. Talud Sungai Desa Alo Utara
    – CV. Mayarima (SPK/PPK/PTSDAU/DPUTR/VI/2023)

  2. Pagar Kompleks Pelabuhan Ferry Melonguane
    – CV. Berkat Usaha (Paket IV/2023)

  3. Pembangunan Kantor Desa Alo
    – CV. Berkat Usaha (Paket V/2023)

Roy mempertanyakan apakah kiprah Nofrian sebagai advokat benar-benar murni membela kepentingan masyarakat, atau justru ada kepentingan lain yang memanfaatkan kedekatan dengan sejumlah pihak yang berkaitan dengan proyek tersebut. Ia mempertanyakan transparansi, integritas, serta potensi konflik kepentingan yang dapat menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

Kritik terhadap Sikap Nofrian

Dalam postingan lainnya, Roy menyinggung pernyataan Nofrian yang dianggapnya merendahkan tokoh-tokoh penting Talaud, termasuk Raja Talaud, sosok yang secara kultural dihormati oleh masyarakat setempat. Roy menilai bahwa ucapan tersebut tidak sejalan dengan prinsip advokat yang seharusnya menjunjung tinggi etika publik.

“Seolah tak merasa bertanggung jawab atas kata-katanya sendiri,” ujar Roy dalam salah satu statusnya. Ia mengimbau agar advokat di Talaud mampu memberikan keteladanan, bukan justru memperuncing konflik atau menggunakan landasan hukum untuk melawan kritik yang diarahkan kepadanya.

Reaksi Publik dan Dampak Sosial

Unggahan Roy memicu beragam reaksi. Banyak warganet yang menilai keberadaan advokat seharusnya menjadi peneduh konflik, bukan titik awal perselisihan baru. Sebagian warga menganggap keberanian Roy sebagai langkah positif untuk membuka diskusi tentang profesionalitas dan transparansi dalam lingkup advokasi di Talaud.

Di sisi lain, beberapa pihak mengingatkan bahwa konflik personal di media sosial berpotensi memperburuk hubungan antarwarga dan menciptakan polarisasi baru. Para tokoh masyarakat bahkan mulai menyerukan agar persoalan tersebut diselesaikan melalui mekanisme formal, bukan dengan saling serang di ruang publik.

Tanda Tanya Besar bagi Penegakan Etika Profesi

Kasus ini kembali mengangkat isu lama mengenai bagaimana pekerja profesional—terutama yang berhubungan dengan hukum dan pelayanan publik—seharusnya berperilaku di era digital. Perdebatan Roy dan Nofrian menjadi contoh nyata bagaimana gesekan kecil di media sosial dapat meledak menjadi konflik hukum, dan bagaimana opini publik dapat memengaruhi reputasi seseorang dalam waktu singkat.

Penutup

Dengan viralnya rangkaian postingan Roy Salibana, sorotan kini semakin tajam mengarah kepada Nofrian Maariwuth. Publik menunggu klarifikasi resmi dari pihak yang disorot, sekaligus berharap agar polemik ini dapat diselesaikan secara proporsional, profesional, dan tetap menjunjung etika hukum.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang media sosial tidak hanya sekadar tempat berpendapat, tetapi dapat menjadi arena yang menentukan kualitas komunikasi publik, profesionalitas, dan akuntabilitas seseorang di mata masyarakat Talaud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.