Tim SAR temukan korban hilang di hutan Tutuyan Sulut dalam kondisi lemah

by -338 Views

Tim SAR temukan korban hilang di hutan Tutuyan Sulut dalam kondisi lemah

News Tutuyan – Upaya pencarian seorang warga yang hilang di kawasan hutan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan menemukan korban dalam kondisi lemah namun masih sadar, setelah dua hari tersesat tanpa komunikasi di tengah medan hutan yang dikenal terjal dan sulit dijangkau.

Humas Kantor SAR Manado, Nuriadin Gumeleng, dalam keterangannya pada Minggu (13/7/2025), mengatakan bahwa korban yang diketahui bernama Jefry Tumuyu (57), warga Desa Kakenturan Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, ditemukan pada Sabtu (12/7/2025) sekitar pukul 13.17 WITA. Korban terdeteksi melalui sensor panas tubuh (thermal detection) di kawasan tepian sungai, tak jauh dari jalur yang sebelumnya disisir oleh tim SAR.

“Unit pencarian dan pertolongan Unit Dua berhasil mendeteksi panas tubuh korban di tepian sungai. Saat ditemukan, kondisi korban sangat lemah akibat kelelahan dan minimnya asupan makanan, tetapi ia masih dalam keadaan sadar,” ujar Nuriadin.

Setelah pemeriksaan medis awal dilakukan oleh petugas kesehatan di lokasi, Jefry kemudian dievakuasi keluar hutan menggunakan tandu khusus dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk mendapatkan perawatan lanjutan.


Kronologi Hilangnya Korban

Peristiwa ini berawal pada Kamis (10/7/2025) sekitar pukul 16.00 WITA, ketika Jefry bersama enam rekannya memasuki area hutan Tutuyan untuk berburu tikus hutan, kegiatan yang cukup umum dilakukan oleh warga setempat. Sesampainya di sebuah sungai besar di dalam kawasan hutan, Jefry memutuskan untuk menyeberang sendirian, sementara enam rekannya memilih mengikuti jalur bukit yang dianggap lebih aman.

Sejak titik tersebut, kontak visual dengan Jefry terputus sepenuhnya. Rekan-rekannya sempat menunggu, namun karena Jefry tidak kunjung muncul, mereka mulai melakukan pencarian mandiri dengan menelusuri tepi sungai. Mereka menemukan beberapa tanda keberadaan Jefry, berupa jejak kaki dan bekas pijakan di tanah basah, namun jejak tersebut hilang sekitar 20 meter dari aliran sungai.

Setelah pencarian manual tidak membuahkan hasil dan hari mulai gelap, para rekannya kemudian melaporkan kejadian ini ke Kantor SAR Manado.


Operasi SAR dan Tantangan di Lapangan

Menerima laporan hilangnya korban, pada Sabtu pagi pukul 07.00 WITA, tim SAR gabungan segera membentuk dua Search & Rescue Unit (SRU) yang terdiri dari unsur Basarnas, BPBD Boltim, TNI, Polri, aparat desa, serta warga lokal yang paham kondisi medan.

Kedua SRU diterjunkan ke dua titik berbeda:

  • SRU 1 fokus menyusuri jalur sungai yang diduga menjadi area terakhir korban meninggalkan jejak.

  • SRU 2 melakukan penyisiran melalui jalur bukit dan area vegetasi rapat yang sering menjadi medan tersulit dalam pencarian orang hilang.

Medan pencarian yang dipenuhi bebatuan licin, arus sungai yang deras akibat hujan, serta tebalnya pepohonan hutan membuat proses pencarian berlangsung menantang. Beberapa kali, tim SAR harus berhenti sejenak karena jarak pandang tertutup kabut tebal yang menggantung di lembah.

Upaya pencarian semakin intens ketika alat pendeteksi panas tubuh mendeteksi anomali suhu pada koordinat tertentu. Setelah melakukan pendekatan hati-hati, tim akhirnya menemukan Jefry terbaring lemah di antara semak dekat tepian sungai, dengan pakaian basah dan tubuh menggigil akibat dua hari bertahan tanpa perlindungan yang memadai.


Kondisi Korban dan Respons Pihak Keluarga

Korban yang tampak lemas akibat kelelahan ekstrem mampu memberikan respons verbal saat ditemukan. Ia mengaku tersesat setelah kehilangan orientasi dan berusaha menyusuri sungai untuk mencari jalan keluar, namun kondisinya semakin menurun oleh minimnya makanan dan cuaca malam yang dingin.

Pihak keluarga yang menunggu sejak pagi langsung menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan operasi SAR tersebut. Warga Desa Kakenturan Barat bahkan turut mendatangi posko untuk mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.


Apresiasi untuk Tim SAR dan Imbauan Keselamatan

Humas Kantor SAR Manado menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti solidnya kerja sama lintas instansi dan masyarakat dalam menangani situasi darurat. Ia juga mengimbau warga agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas di wilayah hutan, terutama pada musim hujan ketika jalur menjadi licin dan rawan tersesat.

“Wilayah hutan Tutuyan memiliki banyak percabangan jalur yang bisa membingungkan bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman navigasi. Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar selalu membawa alat komunikasi cadangan, penanda jalur, atau berkoordinasi dengan aparat desa sebelum memasuki kawasan hutan,” tambah Nuriadin.

Operasi ini secara resmi ditutup pada sore hari setelah seluruh tim SRU kembali dengan selamat ke posko utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.